RSS

GAIRAH VISI

17 Feb

Mudahlah bilang “tidak!” ketika ada “ya!” yang lebih mendalam dan di dalam jiwa.

 

Victor Frankl, seorang psikolog Austria yang selamat dari Kamp Nazi Jerman, membuatpenemuan yang amat berarti. Karena ia menemukan di dalam dirinya kemampuan untukmengatasi lingkungan yang merendahkan martabat manusia, ia menjadi pengamat ekaligus peserta dalam pengalaman berikut ini. Ia mengamati orang yang sama-sama mengalami penderitaan di kamp tersebut. Ia dibuat penasaran oleh pertanyaan ini : Apa yang memungkinkan beberapa orang selamat, ketika sebagian besar dari mereka mati ? Ia melihat beberapa faktor-kesehatan, vitalitas struktur keluarga, kecerdasaan, dan ketrampilan untuk menyelamatkan diri. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa tak satu pun dari faktor-faktor tesebut yang paling menentukan. Ia menyadari bahwa satu-satunya faktor yang paling berarti adalah suatu pemahaman akan visi orang yang akan tetap selamat itu bahwa mereka memiliki misi yang harus diperjuangkan, suatu pekerjaan penting yang tertinggal yang masih harus dilakukan. Orang-orang yang selamat dari kamp POW di Vietnam dan tempat-tempat lain pun melaporkan pengalaman-pengalaman yang serupa: visi yang berorientasi ke masa depan, yang mendorong orang yang memilikinya, merupakan kekuatan utama yang mempertahankan banyak di antara mereka itu tetap hidup. Kekuatan visi sungguh luar biasa! Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki “gambaran peran yang berorientasi ke masa depan” berhasil lebih baik di sekolah, dan lebih kompeten dalam menangani tantangan kehidupan. Tim dan organisasi yang memiliki pemahaman yang kuat mengenai suatu misi tak cukup dapat mewujudkan misi itu tanpa kekuatan visi.

 

Menurut seorang Psikolog Belanda, Fred Polak, faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia adalah “visi kolektif” yang dimiliki oleh orang-orangnya mengenai masa depan mereka. Visi merupakan pengejawantahan yang terbaik dari imajinasi kreatif dan merupakan motivasi utama dari tindakan manusia. Visi adalah kemampuan untuk melihat di sebelah realitas yang kita alami saat ini, untuk menciptakan dan menemukan apa yang belum ada, untuk menjadikan diri kita sebagai seseorang yang saat ini belum terwujud.

 

Dalam bab ini kami hendak menelaah dampak visi pribadi terhadap waktu dan kehidupan kita. Kita akan melihat bagaimana kita dapat menciptakan visi yang memperkuat kita, dan mengintegrasikannya ke dalam jalinan kehidupan keseharian kita.

Kita semua memiliki suatu visi mengenai diri sendiri dan masa depan kita. Dan visi itu menciptakan berbagai konsekuensi. Lebih daripada faktor lain, visi mempengaruhi pilihan-pilihan yang kita buat mengenai cara kita memanfaatkan waktu. Apabila visi kita terbatas apabila ia tidak jauh melampaui tayangan sepak bola jum’at malam atau program TV yang akan datang kita cenderung membuat pilihan berdasarkan apa-apa yang persis berada di depan mata kita. Kita bereaksi terhadap apapun yang urgen, dorongan sesaat, perasaan-perasaan atau suasana hati kita, kesadaran terbatas dari pilihan-pilihan kita, atau prioritas-prioritas orang lain. Kita terombang-ambing. Perasaan kita terhadap keputusan-keputusan kita bahkan ketika kita membuatnya berubah-ubah dari hari ke hari. Apabila visi kita didasarkan pada ilusi, kita membuat pilihan-pilihan yang tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip “utara yang benar”. Pada saatnya pilihan-pilihan itu tidak dapat menciptakan hasil-hasil yang menentukan kualitas hidup sebagaimana kita harapkan. Visi menjadi kecewa, atau sinis. Imajinasi kreatif kita menguap, dan kita tak percaya lagi pada mimpi-mimpi kita. Apabila visi kita bersifat parsial apabila kita hanya memfokuskan diri pada kebutuhanekonomis dan sosial, serta mengabaikan kebutuhan mental dan spiritual, misalnya kita membuat pilihan-pilihan yang bakal bermuara pada ketidakseimbangan. Apabila visi kita didasarkan pada cermin sosial, kita membuat pilihan-pilihan atas dasar harapan-harapan orang lain.

 

Telah dikatakan bahwa “ketika manusia menemukan cermin, ia mulai kehilangan jiwanya.” Apabila visi mengenai diri kita tak lebih daripada pantulan cermin sosial, kita tak memiliki hubungan dengan jati diri kita yang terdalam maupun dengan keunikan dan kemampuan khas kita untuk memberi sumbangan. Kita hidup sesuai dengan naskah hidup yang dihadapkan kepada kita oleh orang-orang lain keluarga, kolega, teman, lawan, media massa. Dan apa naskah hidup itu ? beberapa di antaranya tampak konstruktif: “Kau begitu berbakat!”, “Kau sungguh pemain bola yang alami!”, “Aku selalu bilang bahwa kau mestinya menjadi dokter!” Beberapa diantaranya dapat bersifat destruktif: “Kau begitu lamban!”, “Kau tak dapat melakukan sesuatu dengan baik!”, “Kenapa kau tak dapat lebih menyerupai saudarimu?” Entah baik ataupun buruk, naskah hidup itu dapat menghalangi kita untuk berhubungan dengan siapa sebenarnya diri kita ini, dan apa sesungguhnya kita ini. Pertimbangkan gambaran-gambaran yang ditampilkan oleh media massa sinisme, skeptisisme, kekerasaan, sikap gampangan menuruti sesuatu, fatalisme, materialisme. “Berita-berita buruk’. Apabila gambaran-gambaran tersebut merupakan sumber dari visi pribadi kita, herankah kita kalau banyak di antara kita merasa asing terhadap diri sendiri?

 

VISI YANG MENGUBAH DAN MENTRANSENDIR

Ketika bicara mengenai “gairah visi”, kita bicara mengenai energi yang mendalam dan berkelangsungan , yang timbul dari cara pandang yang bersifat menyeluruh, yang berdasarkan prinsip, berdasarkan kebutuhan, yang melampaui chronos dan bahkanjuga

kairos. Ini berurusan dengan konsep aeon mengenai waktu. Kata ini berasal dari kata Yunani, aion, yang berarti masa, jangka hidup, Keterangan penerjemah: Kata “transenden” beberapa arti. Pertama, kata ini menunjuk pada realitas yang mengatasi hal-ikhwal duniawi. Kedua, kata itu masih menunjuk pada realitas duniawi, tetapi “mengatasi keadaan kongkret saat ini”. Inilah yang dimaksud dengan kata “transendensi diri”, misalnya. Kata “mentransendir” dalam sub-sub ini berarti “ membawa manusia untuk mengatasi keadaan konkretnya pada saat ini, termasuk segala kelemahannya, untuk berkembang lebih lanjut”. Sesuai dengan pengertian ini, kata “visi transenden” yang muncul dalam sub-sub ini berarti “visi yang membawa manusia untuk mengatasi keadaannya sekarang, dan yang memungkinkan untuk menggapai realitas yang lebih besar daripada dirinya.” Atau lebih lagi.

 

Kita menyelam kedalam inti dari siapa dan apa sebenarnya diri kita ini sesungguhnya. Ini didorong oleh pengetahuan akan sumbangan khas yang dapat kita berikan warisan yang dapat kita tinggalkan. Kita menyebutnya “gairah” (passion) karena visi ini dapat menjadi kekuatan pemberi motivasi yang begitu kuat, yang pada gilirannya menjadi DNA kehidupan kita. Ini begitu berurat-akar dan terintegrasi ke dalam setiap aspek kehidupan kita, sehingga menjadi dorongan yang kuat di balik keputusan yang kita buat. Inilah api di dalam jiwa letupan sinergi dari kedalaman diri kita yang terjadi ketika telah tercapai massa kritis dalam integrasi kebutuhan keempat kubutuhan dasar kita. Ini merupakan energi yang membuat hidup ini menjadi suatu petualangan suatu “ya!” yang dalam dan membara, yang membuat kita semakin mampu untuk mengatakan “tidak!” dengan damai dan dengan penuh keyakinan diri terhadap hal-hal yang kurang penting dalam hidup kita. Gairah ini dapat membuat kita semakin mampu untuk mengatasi ketakutan, keraguan, kelesuan, dan banyak hal lain yang membuat kita tak dapat mencapai sesuatu dan memberikan sumbangan kita. Pikirkan Gandhi, misalnya, yang muncul dari latar belakang yang diatandai dengan sifat malu-malu dan takut, kekurangan, kecemburuan, ketakutan dan ketidak-amanan. Bahkan pada dasarnya ia tidak ingin bersama-sama dengan orang; ia ingin sendirian. Ia tidak suka bekerja sebagai pengacara, sampai secara bertahap ia mulai menemukan suatu kepuasan dalam menempa hubungan yang berpola menang-menang bersama orang-orang yang saling bertentangan. Tetapi, ketika ia mulai melihat ketidak-adilan yang dialami oleh orang India, lahirlah visi dalam benak dan hatinya. Dari visi itu tumbuh gagasan untuk menciptakan komunitas eksperimental sebuah ashram dimana orang-orang dapat mempraktekkan nilai-nilai egaliter. Ia melihat bagaimana ia dapat membantu orang India untuk mengubah gambaran-diri mereka sebagai bangsa yang lebih rendah daripada tuan penjajah mereka dari Inggris, dan menumbuh-kembangkan harga-diri dalam jiwa mereka. ]

 

Ketika ia memfokuskan diri pada visi, kelemahan-kelemahan pribadi lenyap.

Visi dan tujuan menciptakan pertumbuhan dan pengembangan diri. Ia ingin mencintai orang orang, bersama dengan orang-orang. Keinginannya yang tertinggi adalah meyelamatkan sebuah bangsa. Sebagai hasilnya, akhirnya ia mampu membuat Inggris bertekuk lutut dan membebaskan tiga ratus juta orang.

 

Menjelang akhir hidupnya, ia mencatat, “Saya memandang diri tidak lebih daripada orang biasa dengan kemampuan di bawah rata-rata. Saya sama sekali tidak meragukan

bahwa setiap orang, pria maupun wanita, dapat mencapai apa yang telah saya capai, apabila dia mengupayakan usaha yang sama dan menumbuhkembangkan harapan maupun keyakinan yang sama”. Kekuatan visi transenden adalah lebih besar daripada penetapan naskah hidup (scripting) jauh di dalam diri pribadi manusia. Visi transenden itu mengebawahkannya, menenggelamkannya, sampai totalitas kepribadian orang yang

bersangkutan mengalami reorganisasi demi tercapainya visi itu. Gairah visi bersama membuat orang-orang semakin mampu untuk mengatasi interaksi yang negatif dan picik, yang begitu banyak memboroskan waktu dan tenaga, serta menguras kualitas kehidupan.

Stephen: Baru-baru ini saya melewatkan dua hari bekerja bersama dengan orang-orang fakultas dan administrasi suatu kolese di salah satu provinsi di Canada. Mereka sedang

menangani persoalan yang amat menentukan dan mereka sama sekali terperangkap

dalam pemikiran yang serba dihantui oleh kekurangan. Lingkungannya terlalu dibayangi

oleh kekecilan, kepicikan, dan tuduhan. Mereka telah melewatkan beberapa saat dengan memikirkan persoalan sekitar pernyataan misi, dan ketika kami bekerja bersama, mereka sampai pada suatu kesimpulan. Mereka akhirnya menetapkan bahwa misi mereka adalah “untuk menjadi kolese penasihat pendidikan” bagi provinsi mereka. Mereka ingin menjadi sebuah organisasi yang memiliki kepedulian dan memberi nasihat kepada organisasi-organisasi lain, agar menjadi organisasi yang berorientasi pada prinsip. Ketika mereka sampai pada keputusan itu, kekecilan dan kepicikan mereka menguap. Semangat orang-orang itu terbakar oleh sesuatu yang lebih penting, oleh tujuan transenden yang membuat hal-hal lain tidak relevan lagi. Inilah yang terjadi ketika orang memiliki pemahaman yang benar mengenai warisan, memberikan sesuatu yang berarti, pemahaman akan sumbangan yang dapat diberikan. Ini tampaknya masuk ke dalam bagian terdalam dari hati dan jiwa mereka. Hal-hal yang remeh menjadi tidak penting ketika orang begitu bergairah, tersemangati oleh suatu tujuan yang lebih tinggi daripada diri mereka sendiri. Gairah dari jenis visi yang kita bicarakan ini memiliki dampak yang bersifat mengubah dan memungkinkan orang untuk mengatasi keadaannya yang konkret saat ini – mungkin merupakan dampak terbesar dari satu faktor manapun terhadap waktu dan kualitas

hidup kita.

 

MENCIPTAKAN DAN MENGHIDUPI PERNYATAAN MISI YANG MENEGUHKAN KITA

Salah satu proses yang paling kuat yang telah kami temukan untuk memelihara gairah visi adalah proses penciptaan dan pengintegrasian pernyataan misi pribadi yang memperteguh kita. Boleh jadi Anda telah memahami konsep pernyataan misi pribadi. Gagasan itu bukan merupakan sesuatu yang baru. Orang-orang dari berbagai kebudayaan telah menciptakan pernyataan iman, keyakinan pribadi, dan pernyataan-pernyataan yang serupa sepanjang jaman. Barangkali Anda telah menuliskan pernyataan Anda sendiri se agai bagian dari program pengembangan pribadi dalam kegiatan usaha di mana Anda berada maupun dalam kapasitas lain. Tetapi, karena kami telah terlibat dalam pekerjaan perumusan pernyataan misi semacam itu di seluruh pelosok dunia, kami menemukan bahwa beberapa pernyataan jauh lebih menguatkan kita daripada yang lain. Orang yang berusaha menuliskan suatu pernyataan misi untuk pertama kali sering menuliskannya hanya untuk menyenangkan atau memberi kesan hebat kepada orang lain. Mereka tidak cukup jauh melangkah atau tidak mau berkorban untuk menciptakan hubungan batin yang mendalam dengannya. Pernyataan misi itu menjadi rangkaian kata-kata kosong, suatu daftar hal-hal yang “harus dilakukan” yang perlu dicek dan disimpan kalau sewaktu-waktu diperlukan untuk mendapatkan inspirasi.

Pada matra organisasi, inilah yang terjadi kalau pernyataan misi itu datang dari “gunung

Olympus” para eksekutif, yang kemudian dirangkai dengan kata-kata indah oleh bagian

PR (Humas). Di dalamnya tidak terdapat keterlibatan yang berarti, dan oleh karena itu tidak ada orang yang mau memeluknya dengan sepenuh hati. Rumusan itu hanya tergantung di dinding dan tidak membara di dalam hati, pikiran dan hidup orang-orang yang bekerja di sana.

Yang kita bicarakan di sini bukan hanya menuliskan suatu pernyataan keyakinan. Kita bicara mengenai upaya mendapatkan jalan masuk dan menciptakan hubungan terbuka dengan energi yang mendalam, yang timbul dari pemahaman akan tujuan dan makna dalam hidup, yang terumuskan dengan baik dan terintegrasikan seluruhnya. Kita bicara mengenai upaya menciptakan visi yang kuat atas dasar prinsip-prinsip “utara yang benar”, yang menjamin kemungkinan tercapainya. Kita bicara mengenai kegairahan dan

petualangan yang timbul dari adanya hubungan dengan tujuan Anda yang unik dan kepuasan yang mendalam dalam upaya mencapai tujuan tersebut.

 

 

 

Disalin dari First Things First. Dahulukan Yang Utama. Stephen R Covey. A Roger Merill

dan Rebecca R Merril. 1994. Penerbit : PT Gramedia Jakarta.

 

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2007 in Blogroll, INDAHNYA DUNIA

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: