RSS

PERUBAHAN BERLANGSUNG DENGAN LAJU AKSELERATIF

17 Feb

(Semakin Lama Semakin Cepat)

Meskipun dunia berputar pada sumbunya dengan kecepatan konstan, kehidupan Manusia berlangsung dengan laju perubahan yang semakin lama semakin cepat. Ilmu
pengetahuan dan teknologi pemicu perubahan utama yang memicu perubahan di segala
bidang – berlangsung dengan luar biasa cepat. Produk-produk teknologi baru bermunculan setiap detik membuat produk-produk terdahulu segera usang. Dampak ikutannya, yaitu perubahan dalam bidang bisnis, sosial, politik, dan gaya hidup berlangsung semakin cepat pula, sehingga membuat manusia masa kini pontangpanting
mengikutinya. Tak heran apabila sekarang banyak tokoh mencoba menyederhanakan kompleksitas zaman ini dengan merumuskan gejala, kecenderungan, dan polanya. Pada umumnya, kajian masa depan ini dapat dibagi ke dalam tiga pandangan: optimistik, pesimistik, dan realistik.

PANDANGAN OPTIMISTIK
Pandangan ini dapat diwakili oleh dua buku. Pertama, The Year 2000 (1967) oleh Herman Kahn dan A.J. Weiner. Menurut mereka, pada tahun 2000-an akan tercipta suatu masyarakat pascaindustri yang makmur dan bersifat global sebagai hasil dari akumulasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, Megatrends 2000 (1990) oleh John
Naisbitt. Menurut kajian ini terdapat 10 trend utama pasca-tahun 2000, yaitu bom ekonomi global, renaisans seni budaya, sosialisme pasar bebas, gaya hidup global, swastanisasi usaha-usaha pemerintah, tepi pasifik menjadi pusat gravitasi ekonomi global, dominasi wanita pada posisi kepemimpinan, zaman biologi menggantikan zaman
fisika, bangkitnya agama-agama dan supernaturalisme, serta makin kuatnya kultur individualitas.

PANDANGAN PESIMISTIK
Pandangan ini dikemukakan dalam The Seventh Enemy (1978) oleh Ronald Higgins. Menurut Higgins, perubahan yang super cepat akan menyebabkan umat manusia mengalami masalah-masalah di masa depan, seperti degradasi lingkungan, iptek yang diabdikan bagi kejahatan, krisis energi, krisis pangan, ledakan penduduk, penyalahgunaan senjata nuklir, dan krisis moral. Dari ketujuh masalah itu, menurut Higgins, krisis moral merupakan musuh terjahat bagi umat manusia. Karena itu, manusia masa depan memerlukan kesadaran baru, visi baru yang segar, kebangkitan moral, dan spiritualitas. Jika tidak demikian, umat manusia hanya akan beralih dari satu krisis ke krisis berikutnya, dan bukan tidak mungkin akan menuju ke kehancuran total.

PANDANGAN REALISTIK
Pandangan ini diwakili oleh The Future Shock (1970) karya Alvin Toffler. Masa depan akan ditandai dengan ciri-ciri: revolusi pertanian dan rekayasa genetika, teknologi lautan dan ruang angkasa, organisasi berbasis komputer, industri informasi dan telekomunikasi, gaya dan cara baru dalam bekerja dan menjalani kehidupan, lompatan besar ke depan, kebudayaan baru yang bersifat global, dan terciptanya masyarakat super industri. Untuk konteks Indonesia, senada denganToffler, dapat pula dikemukakan pandangan Jonathan L. Parapak (1989) dalam kapasitasnya sebagai direktur utama PT Indosat ketika itu. Menurut Parapak, teknologi informasi, termasuk teknologi komputer, elektronika, telekomunikasi, dan teknologi media citra bergerak. Komputer semakin pandai, elektronika semakin kecil dengan kemampuan semakin cepat, telekomunikasi semakin luas dengan kapasitas yang amat tinggi. Teknologi informasi inilah yang menjadi pendorong utama bagi masyarakat dunia yang memasuki era informasi. Era ini semakin diwarnai oleh kemudahan mengumpulkan, mengolah, menyimpan, dan menyalurkan informasi. Dalam era ini informasi semakin menjadi komoditas strategis, sehingga siapa yang mampu mengelola informasi dengan baik akan memiliki pengaruh dan kekuasaan yang semakin besar. Teknologi lain adalah bioteknologi.
Teknologi ini sedang menghadirkan berbagai produk dan cara baru untuk memenuhi kebutuhan manusia akan makanan. Selain itu, teknologi transportasi telah memungkinkan manusia sampai ke bulan, dan telah menciptakan kecepatan serta kemudahan bagi penyaluran barang dan interaksi antar manusia. Ia telah menghadirkan pasaran dunia bagi setiap produsen yang memiliki keunggulan komparatif. Dampak sosial perubahan teknologi di atas, menurut Parapak, akan menimbulkan eberapa kecenderungan baru: pertama, tingkat kompleksitas masyarakat akan Smakin tinggi. Sebagian besar dari mereka masih berada di dunia era pertanian, ebagian kecil semakin matang dalam industri konvensional, dan sebagian kecil lagi kan semakin berpengaruh di dunia informasi. Kedua, restrukturisasi di berbagai bidang ehidupan akan berlangsung lebih cepat. Sentuhan teknologi canggih pada masyarakat, hususnya kalangan menengah ke atas, akan semakin luas dan mendalam.
Tempo ehidupan akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh dan mengakibatkan kompetisi ang meningkat baik pada lingkup nasional maupun internasional. Ketiga, pola omunikasi dan interaksi semakin berubah. Sebagai hasil restrukturisasi komunikasi, ola komunikasi tidak lagi berporos pada atas bawah saja, tetapi akan berkembang ecara multidimensional. Keempat, nilai-nilai kerja dan profesionalisme akan bergeser. enekanan pada jabatan struktural akan bergeser ke karya nyata yang diperlukan dan apat dirasakan oleh masyarakat. Kelima, saling ketergantungan dan saling empengaruhi pada berbagai lapisan akan meningkat baik secara nasional maupun nternasional. Keenam, tuntutan otomatisasi untuk mempertinggi efisiensi dan roduktivitas akan meningkat, sehingga mendorong restrukturisasi kerja. Ketujuh, nteraksi manusia akan mengalami restruktirisasi dan pergeseran ke arah galitarianisme dan demokrasi. Parapak memperingatkan bahwa kecenderungan di atas, selain membawa banyak peluang, akan membawa pula sejumlah persoalan baru. Persoalan tersebut antara lain adalah penciptaan lapangan berkarya bagi penduduk yang terus bertambah, masalah pelestarian lingkungan dan restorasi lingkungan yang terlanjur rusak karena eksploitasi sumber alam, masalah pengembangan industri yang cepat dan mampu mendukung tercapainya sasaran-sasaran pembangunan nasional yang didukung oleh budaya teknologi secara nasional, dan masalah perubahan struktur produksi dan struktur sosial karena pengaruh industrialisasi dan teknologi di segala bidang.

TERJADI KOMPETISI JENIS BARU YANG AMAT KOMPLEKS (Hiperkompetisi)

Bisnis dari dahulu penuh dengan persaingan. Negara-negara pun saling bersaing. Dan pada tingkat paling kecil, manusia juga bersaing dengan sesamanya. Yang kalah kemudian gulung tikar, sementara yang menang mendominasi. Namun, kini persaingan
semakin seru dan berwajah multidimensional. Menurut Richard A. D’Aveni dalam Hypercompetition: Managing the Dynamics ofStrategic Manuvering (1994), persaingan tradisional terjadi secara statis di empat arena. Pertama adalah harga dan kualitas. Intinya adalah kita mengupayakan efisiensi di segala bidang, sehingga kita mampu mengungguli pesaing dengan harga lebih murah atau dengan harga yang dibuat tetap dan mutu produk yang lebih tinggi. Arena kedua adalah durasi waktu dan aset pengetahuan. Intinya, kandungan pengetahuan diinjeksikan ke alam produk yang dihasilkan, dan pelanggan diminta membayar dengan harga yang mahal atas kandungan ini. Kondisi ini dipertahankan selama mungkin, sampai pesaing dapat menyamai kandungan pengetahuan dalam produk mereka. Arena ketiga adalah membangun benteng pertahanan yang sulit dimasuki oleh pesaing. Taktik ini umumnya dicapai dengan memainkan skala ekonomi, diferensiasi produk, transfer dan pertukaran biaya, akses ke gerai distribusi (outlet), dan akses ke sumber bahan baku. Lebih jitu lagi jika monopoli (legal atau ilegal) dan integrasi bisnis dari hulu sampai hilir diperoleh. Arena keempat adalah persaingan skala modal. Perusahaan berkantung tebal dan bermodal besar dengan mudah mengungguli bahkan mematikan usaha bermodal kecil berkantung cekak. Namun trend baru adalah hiperkompetisi, yang terjadi karena dua hal. Pertama, persaingan di empat arena tersebut tidak terjadi satu per satu dan statis, melainkan serempak di seluruh arena dan bersifat dinamis. Jadi organisasi sekaligus bersaing pada wilayah mutu/harga, know-how/timing, benteng pertahanan dan skala modal. Kedua, persaingan tidak lagi satu lawan satu, melainkan satu lawan banyak. Tidak lagi Cocacola vs Pepsicola, Fuji vs Kodak, Indosat vs Satelindo, tetapi Cocacola lawansemua non Cocacola, Fuji lawan semua non Fuji, Indosat lawan semua non Indosat.
Akhirnya timbullah kompleksitas karena bagitu banyaknya kemungkinan yang terjadi sebagai akibat dari kombinasi keempat arena di atas dan jumlah pemain yang terlibat. Secara matematis jumlah kemungkinan itu bisa dihitung. Misalnya, jika ada lima pemain
dalam satu industri, misalnya Bank A, Bank B, Bank C, Bank D, dan Bank E, dengan empat pilihan kompetisi, maka jumlah kemungkinan strategi dan taktik kompetisi yang bisa dibuat mencapai 120 pilihan. Inilah yang disebut hiperkompetisi.

Disalin dari Jansen Sinamo, Strategi Adaptif Abad ke-21: Berselancar di Atas
Gelombang Krisis, Gramedia, tahun 2000

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2007 in ARTICLE, Blogroll

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: