RSS

Dongeng Manusia Terbang

20 Dec

Aku tumbuh menjadi pemuda yang tampan pada masa di mana semua orang ditakdirkan untuk bisa terbang. Terbang dalam arti sebenar benarnya, seperti burung. Orang orang sudah meninggalkan kebiasaan primitif nenek moyangnya yaitu pergi menggunakan kendaraan. Lagi pula, jika kau bisa terbang, buat apa pakai mobil atau sepeda motor. Tidak praktis, bikin macet dan polusi, dan juga mahal. Semua orang bisa terbang kemana saja mereka inginkan. Tua atau muda, kaya miskin, asalkan sudah berumur 5 tahun dapat dipastikan ia bisa terbang.

Aku biasa terbang dengan teman temanku menjelajahi luasnya alam semesta. Tapi aku hanya berani terbang sampai Pluto, selebihnya aku tidak berani. Takut nyasar.
Ke bulan? Tentu saja aku pergi kesana. Terkadang sendirian saja sambil ngecengin perempuan yang bening bening, tapi seringnya aku pergi dengan teman temanku. Wew, lupa! Aku ada janji dengan mereka sekarang.

Aku bergegas keluar kamar, menyambar helm dan setengah berlari keluar dari rumah Sesampainya di beranda depan aku berhenti melihat adikku sedang menangis sambil mengelus elus kepalanya.

“Kepala lo kenapa?” Tanyaku.

“Kepentok, bang” Jawabnya disela tangisannya.

“Kepentok apaan sih?”

“Asteroid”

“Huahahaha..makanya dul, kalau terbang tuh pake helm.”

Dulu aku juga pernah beberapa kali kepentok asteroid, tentu saja asteroid yang kecil bukan yang gede gede. Oleh karena alasan keamanan itulah, aku selalu memakai helm ketika terbang.
Aku meninggalkan adikku yang masih tersedu sedan untuk segera pergi ke bulan. Mengenakan helm warna merahku, aku pun terbang dengan mantap. Aku baru setinggi atap rumah ketika kudengar seseorang memanggilku.

“Hoi!”

Aku menundukkan kepalaku kebawah, tetanggaku melihatku sambil memegang kantong plastik kecil. “Apaan Bu?”

“Mau kemana?”

“Bulan”

“Ibu mau minta tolong bisa engga?”

“Minta tolong apaan?” Demi menjaga etika berbicara maka aku pun turun, disamping karena mulutku yang sudah pegel bicara teriak teriak.

“Begini, nanti kalau kamu sudah mau pulang, ibu nitip bungkusin asteroid yang kecil kecil.”

“Buat apaan Bu?”

“Nanti ibu mau taruh di akuarium, buat hiasan.”
“Oo..ya sudah. Nanti aku bawain.”

“Terima kasih ya”

Aku mengangguk, lalu terbang terburu buru mengejar waktu. Setengah jam lagi, aku harus sudah sampai di bulan.

Akan tetapi belum juga jauh aku terbang, saku celana sebelah kananku bergetar hebat. Getar yang merambat kesekujur tubuhku menimbulkan sensasi yang ohhhhh. Ada sms masuk.
Hoi, ga jadi ngumpul, gw disuruh nganterin nyokap, trus yang lain jg ada perlu.

Dasar sial! Hampir saja HPku kulempar ke bawah kalau saja aku tidak ingat bahwa ini HP yang mahal. Sayang banget kalau hancur. Tapi, aku tidak bisa marah sama mereka, paling paling nanti aku minta traktiran meski engga ada yang ulang tahun.

Aku pun lalu memilih untuk pergi menuju kumpulan asteroid asteroid untuk memenuhi pesanan ibu tetangga rumahku. Kupilih asteroid asteroid yang berukuran kecil, yang muat untuk di taruh di akuarium. Pekerjaan itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah dirasa cukup banyak, aku pun pulang ke rumah.

Ketika dalam perjalanan pulang itulah aku merasakan keinginan untuk buang air kecil yang tidak tertahankan. Biar pun sudah berusaha kualihkan perhatianku pada hal lain, tetap saja rasa itu masih mencengkeram kuat kuat di, ah kau tau maksudku khan? Berhubung aku sudah tidak tahan dan kebetulan sedang berada di atas gumpalan awan kelabu yang cukup besar dan gendut, maka aku memutuskan untuk menyelesaikan hajatku di sini. Lalu aku terbang ke awan yang agak menggelembung keatas sehingga menutupiku dari pandangan orang orang. Awan itu kebetulan tidak jauh berada di depanku.

“Waaaaaaaaaaa”

Aku berteriak kaget ketika sesampainya di gumpalan awan yang menggelembung itu. Seorang laki laki seumuranku sedang terjongkok dengan celana sengaja di pelorotkan. Wajahnya semerah kepiting rebus.

“Woi, ga bisa ketok pintu dulu apa!” Semprotnya.

“Ketok pintu dengkulmu. Emangnya di WC emak lo. Lagian lo pake kencing di sini, sih. Malu maluin aja.” Semprotku lebih kenceng, dan dengan berpura pura menganggap kencing sembarangan itu jelek, tentu ia akan lebih jengkel meskipun hal itu berarti membohongi diri sendiri. Tapi, tidak apa apa, lagian dia khan engga tahu tujuanku kemari.

“Sapa yang lagi kencing!” Katanya lagi.

“Lah, itu ngapain pake acara jongkok disitu?”

“Orang gw lagi berak.”

Kalau saja hal ini terjadi di dalam komik jepang, pasti aku akan digambarkan terjatuh dengan kaki diatas, atau akan ada gambar setetes air di belakang kepalaku.

“Trus, lo ngapain ke sini.”Tanyanya.

“Mau kencing” Aku bisa saja berbohong dengan mengatakan seribu kebohongan kepadanya dan dipastikan, dengan kepiawaianku berbicara dan sedikit karisma dari wajahku, ia akan percaya begitu saja. Tapi aku lebih memilih jujur, karena menurutku kejujuran yang pahit akan lebih baik dari pada kebohongan yang manis. Meskipun aku tahu, kejujuran kali ini tidaklah pahit, tapi pesing.

“Ya dah, agak jauhan sana. Perut gw lagi mules nih.”

Tangannya menujuk kearah gelembung awan yang lain, yang lebih gelap, mungkin sebentar lagi akan menjadi hujan. Semoga saja tidak ada petirnya. Awan yang dimaksud terletak agak jauh dari tempatku sekarang hingga besar kemungkinan laki laki itu tidak akan kelihatan olehku

Aku sedang menikmati nikmat dan leganya buang air kecil, saat tiba tiba saja dari samping kananku, pada bagian yang tidak terlindungi gelembung awan, melintaslah seorang perempuan cantik. Perempuan itu melihat kearahku, dan aku pun melihat kearahnya. Ini lebih disebabkan oleh reflek seorang pemuda tampan melihat perempuan cantik, jika kau tahu maksudku tentu saja. Tapi aku segera tersadar akan keadaanku, yang segera menimbulkan serangkaian kejadian yang tidak mengenakkan sekaligus membuat penasaran.

Perempuan itu berteriak, menutupi kedua tangannya dengan mukanya, tunggu dulu, rasanya ada yang aneh dengan tulisanku. Oke aku salah ketik, maksudku perempuan itu menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Menjatuhkan sapu tangannya, lalu terbang pergi secepatnya dari hadapanku. Sedang aku hanya bisa terpana menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan ini sambil meneruskan buang airku hingga tuntas. Sebab aku sadar, akan sangat sulit dan meyakitkan ketika kau mencoba berhenti buang air pada saat sedang deras derasnya mengalir. Jika kau tidak percaya, silahkan coba sendiri.

Sesudah menyelesaikan ritual kecilku, aku segera mengambil sapu tangan milik perempuan itu. Tengok kanan dan kiri, tidak ada orang. Laki laki yang tadi kutemui tidak kelihatan batang hidungnya, mungkin sedang asik dengan pertempurannya sendiri.
Sapu tangan itu berwarna merah muda dengan berhiaskan bordiran bertuliskan huruf A yang dibentuk sedemikian rupa.
Pasti itu adalah inisial namanya. Bau harum menguar ketika sapu tangan itu kudekatkan ke wajahku. Bau harum yang memabukkan, membuat awan tempatku berpijak seakan berputar. Langit berputar memuntahkan seribu kunang kunang di kepalaku yang terasa menjadi berat. Sangat berat. Lalu semua menjadi gelap. Aku pingsan.

Aku dibangunkan oleh aroma busuk menyengat yang mencengkeram bulu bulu hidungku. Setelah kubuka mataku, aku terlonjak shock setelah mengetahui benda apakah gerangan yang membangunkanku. Kaos kaki dekil warna hitam, sedang menggantung tepat diatas hidungku. Hueks!

Laki laki itu, yang segera kukenali adalah sebagai laki laki yang tadi sedang buang air besar, menyeringai kepadaku.

“Apa apan lo!” Semprotku sambil menendang kaos kakinya jauh jauh.

“Busyet, bukannya bilang makasih udah gw sadarin lo, malah marah marah. Biar pun bau, itu kaos kaki kesayangan gw tau! Saking sayangnya , gw ga pernah cuci tuh kaos kaki. Ngerti ga lo!”

Pantes baunya segambreng. “Sory bro, gw cuma agak sedikit shock aja ngeliat kaos kaki jelek menggantung di depan gw.”

“Ya sudah engga apa apa.” Laki laki itu tampak memperhatikanku lebih jauh.”ngomong ngomong barang barang lo lengkap ga?” Katanya lagi.

Barang barang? Tentu saja ini membuatku bingung.
“Barang gimana maksud lo?”

“Dompet sama HP lo masih ada ga?”

Aku segera merogoh kantong celanaku, depan belakang, samping kana samping kiri, hasilnya nihil. Aku pun lemas, semuanya hilang.
“Hilang..” Kataku lirih tak bersemangat.

Peristiwa itu membuatku memutar kembali saat saat sebelum aku pingsan. Laki laki yang sedang buang air, perempuan cantik, sapu tangan jatuh, harum yang memabukkan. Itu dia, pasti gara gara bau sapu tangan itu.

“Gw tahu siapa yang ngelakuin ini semua ke lo.” Kata laki laki itu.

“Perempuan tadi?”

Laki laki itu mengangguk. “Begini, sebenarnya gw sudah lama ngincer tuh perempuan, soalnya dulu, barang berharga gw juga pernah diembat sama dia. Makanya gw lagi nyariin dia, eh pas ketemu malah perut gw yang rese. Gara gara makan sambel kebanyakan nih.”

“Jadi perempuan itu tukang bius?”

“Yoi bro.”

Aku tidak bisa berkata apa apa lagi, disamping sedang meratapi barang berhargaku yang hilang juga karena mendapati kenyataan bahwa, tidak peduli di jaman apakah kita tinggal, selalu saja ada yang menghalalkan segala cara untuk mencari uang. Aku menghempaskan badanku kembali ke awan. Jujur saja, emua itu membuatku mual. Isi perutku serasa diaduk aduk.
Huf, ternyata kejahatan dapat terjadi pada siapa saja dan oleh siapa saja.

 
1 Comment

Posted by on December 20, 2007 in Blogroll, INDAHNYA DUNIA

 

One response to “Dongeng Manusia Terbang

  1. khatulistywa

    April 14, 2008 at 8:57 am

    bagus jo kembangin terus. oh ya ajarin google ads send donksssss.
    Ciuuuuuuuu
    sang pencari cinta

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: