RSS

Menatap Diri Sendiri

17 Apr

Menatap Diri Sendiri

Tapi aku melihat dalam dirimu,
Kecantikan yang tidak akan memudar
Dan pada musim gugur usiamu
Kecantikan itu tidak takut
Menatap dirinya sendiri dalam cermin
Dan tidak akan dicela

Hanya aku yang mencintai,
Apa yang tak tampak dalam dirimu

(KAHLIL GIBRAN )


“Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. “

Sepasang kekasih dengan penuh kebahagiaan menantikan suatu pernikahan dengan penuh harapan. Dengan segala persiapan yang cukup lama akhirnya seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa dan sangat mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai dan saling mencintai.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bukan terlewati dan akhirnya beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. “Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…..” Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Waktu pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan satu per satu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir. “Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya. “Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia “Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”. Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. “ Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…..

Melihat kisah di atas kita sering menemukan itu dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam temen, sahabat, keluarga, dan di masyarakat kita. Memang menemukan kekurangan dan kelebihan orang lain itu gampang apalagi menerima kelebihan orang lain begitu sangat gampangnya namun bagaimana dengan menerima kekurangan orang lain. Sering yang kita harapkan bahwa orang itu harus sesuai dengan kita, kalau tidak itu berarti tidak cocok dengan kita.

Bila kita melihat cerita di atas bagaimana sikap seorang istri dengan jujur menceritakan kekurangan yang ada dalam diri suaminya dengan harapan nantinya bisa dapat berubah. Itu sah-sah saja tetapi jangan sampai kita menuntut untuk merubah diri secara total, karena dengan perbedaan itu kita dapat menemukan keunikan yang menjadi kekayaan dan kerinduan bagi sebuah keluarga. Menerima ada adanya satu dengan yang lain itu menjadi kunci dalam hidup berkeluarga untuk mencapai kedamaian dan kebahagian.

Coba kita lihat dalam kehidupan ini, banyak sekali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati karena melihat keburukan orang lain. Sesungguhnya tak perlu itu dilakukan karena menghabiskan dan menyita serta menyia-nyiakan waktu untuk memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, keunikan, sukacita dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? aku percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk. Semoga….!!!

 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2008 in ARTICLE, Blogroll

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: