RSS

Sedikit Tapi Ikhlas

05 May

Sedikit Tapi Ikhlas

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat meski mereka berlaku buruk pada kita. Ingatlah bahwa menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka tetapi karena siapakah diri anda sendiri.

(Andrew T. Somers)

Ingin rasanya saat ini dunia diselimuti dengan mendung yang tebal supaya dunia menjadi dingin dan sejuk, karena saat ini begitu panas sangat menyengat tanpa batas dan seperti tidak berperasaan lagi, karena memaksa semua mahkluk menjadi gerah dan mengerang. Awalnya sangat menginginkan panas setelah panas maunya mendung, dan akhirnya tanpa ada cinta lagi karena semuanya dipenuhi dengan keegoisan, keserakahan, keangkuhan, kekerasan, dan kesombongan yang memenuhi dunia ini.

Namun, sejalan dengan berjalannya waktu, begitu banyak hal yang dialami dunia seperti hal-hal di atas yang mau menghancurkan dan memporakporandakan semua hal, anehnya, cinta yang dimilikinya itu tidak hilang dan pudar, karena cinta seperti nafas, yang selalu dibutuhkan, selalu dijaga kualitasnya dan tanpa sadar rasa cinta justru mampu menjadi benteng pertahan hidup untuk menikmati indahnya dunia.

Dengan perubahan yang begitu cepat di bidang apapun ini, aku pun jadi ingat dengan sesuatu yang pernah aku alami dalam hidupku. Aku tidak tau kenapa pengalaman itu tidak pernah mengilang dari benakku dan sangat membekas dalam hati. Ceritanya begini: pada sore hari itu karena tidak ada kegiatan aku bersepeda untuk mengelilingi kota Jogja, rasanya asik banget menikmati suasana Jogja di sore hari. Dengan ramainya kendaraan di jalan, aku dengan asiknya mengayunkan pedal sepedaku dan menerobos dalam sela-sela dengan kendaraan.

Ketika sampai di perempatan Tugu Jogja, waktu itu aku berhenti karena lampu merah. Aku melihat seorang anak laki-laki umurnya kurang lebih 7, 8 tahunan lagi asik mengamen. “Hebat anak sekecil itu sudah berani berjuang hidup dalam dunia yang kejam sangat susah ini” bisikku dalam hati. Tiba-tiba aku terkejut dan sangat terkejut melihat pengamen itu menyobek-nyobek uang lima ribu rupiah (Rp. 5.000,-) dan di sebarkan di depan mobil mewah berwarna merah. Aku mendengar suara anak itu walau tidak begitu jelas mengatakan “aku juga manusia yang punya harga diri”. Jendela kaca mobil mewah terbuka, aku lihat seorang pemuda berkaca mata hitam dan kudengar suara “dikasih tidak terima kasih malah marah-marah dasar gembel”, dengan suara ketus. Semua berakhir karena lampu sudah berganti hijau.

Dengan rasa ingin tau, aku berbalik arah dan menghampiri pengamen itu sambil membawa es dawet yang aku beli di Pasar Kranggan. Sambil menawari es dawet itu aku mengajaknya duduk di depan ruko pinggir jalan. Kami pun omong-omong sambil menikmati segarnya es dawet. Setelah sedikit akrab aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “Oya dek, kenapa tadi kok nyobek-nyobek uang?” tanyaku. “Kesel aja” jawabnya ketus. “kan lumayan dek dapet 5 ribu, susah lo dapet uang segitu?” tanyaku lagi.

Dia pun hanya diam dan mau pergi namun tanganku secara reflex memegang tangannya. “Ada apa dek?” tanyaku. “aku memang cuma seorang pengamen, yang banyak menganggap kami hanyalah sampah dan gembel, pengotor dan peagacau. Aku juga punya perasaan.” katanya dengan suara sedikit serak. “memang tadi aku di kasih uang 5 ribu, tapi cara mengsihnya?” katanya selanjutnya. “Emang caranya gemana?” tanyaku. “mengasihkannya dengan cara melemparkan di bukaku, aku terasa di hina, aku tau kak aku hanya pengamen, mending dikasih sedikit namun iklas” jelasnya.

Sambil meninggalkan anak itu aku sungguh merasa tersindir dan aku masih penuh di selimuti kesombongan serta keegoisanku sendiri. Selain itu pandanganku juga berubah, aku dapat belajar dari pengalamanku ini. Pengalaman yang tidak pernah aku sangka aku dapat mengalaminya, sesuatu yang unik dari dunia ini. Sedikit terbuka lagi pandanganku dengan pandangan yang baru, semoga ini juga bisa membuka pandangan Anda yang menbacanya.

Hal di atas bisa menjadi pembelajaran buat kita, dan menjadi pertanyaan buat kita “Sudahkah kita memberi dengan iklas?” pentanyaan itu kiranya dapat menjadi bahan refleksi kita dalam mengarungi hidup ini. Sesuatu yang kecil dapat kita jadikan pembelajaran buat kematangan kepribadian kita. Semoga kita tidak hanya mnguatkan keegoisan kita sendiri seperti meminta langit mendung atau laingit cerah dan panas. Tapi apapun yang ada dan apapun yang di sediakan ala mini kita terima dengan iklas dan berikan segala kemampuanmu demi keindahan ala mini dengan penuh keiklasan.

Yogyakarta, 5 Mei 2008

By Dandy

 
Leave a comment

Posted by on May 5, 2008 in ARTICLE, Blogroll

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: