RSS

Apakah Cinta Anda Tulus Abadi?

05 Feb

“Apakah aku harus mempertahankan ikatan pernikahan ini?”

“Hmmm…aku bukan konsultan pernikahan nih! Aku ini pendiri APIQ. Konsultan pendidikan atau matematika masih bolehlah!? Tapi bukan konsultan pernikahan,” pikirku dalam hati.

“Dia tidak seperti dulu lagi. Sebelum menikah ia rajin sholat, baca quran, pengasih. Sekarang dia tidak mau beribadah lagi. Malahan ia sering mabuk ke diskotik, judi, main perempuan lagi!”

“Walah…segala rumus matematika tidak akan banyak membantu di sini,” aku masih hanya berpikir dalam hati saja.
“Aku tidak kuat lagi… Sabar kan ada batasnya!”

“Nah ini dia!” aku masih berpikir dalam hati,” baru ada rumus matematikanya. Sabar ada batasnya. Tentang batas, matematika membahasnya dalam teori limit – kalkulus.”

Saya mencoba memberanikan diri bertanya, tidak hanya dalam hati,
“Apa misi kamu menikahinya?”

Terdiam.
Lengang.
Kosong.

Cinta tulus abadi adalah cinta tanpa syarat. Justru cinta itu sendiri adalah syarat untuk terciptanya kebaikan-kebaikan selanjutnya.

Saya mencintai APIQ dan matematika bukan karena APIQ dan matematika memberi keuntungan bagi saya. Tetapi justru karena cinta saya kepada APIQ dan matematika itu mendorong saya untuk berbuat kebaikan-kebaikan selanjutnya.

Saya terdorong untuk berbuat/mengembangkan metodologi pembelajaran matematika yang menyenangkan karena rasa cinta kepada APIQ.

Saya terdorong menulis di blog, menulis buku, berkreasi membuat mainan matematika karena rasa cinta saya kepada APIQ.

Seandainya, seseorang mencintai APIQ karena pamrih oleh manfaat tertentu maka cinta itu akan pudar seiring pudarnya manfaat atau keuntungan yang ia dapat. Tentu saja, cintanya tidak tulus dan tidak abadi. Sedangkan cintaku adalah tulus dan abadi.

Cinta orang tua kepada anak adalah tulus abadi. Karena cinta itulah orang tua rela mengorbankan apa pun miliknya demi kebaikan anaknya. Apa pun yang terjadi pada anaknya ia terima dengan lapang dada karena cinta.

Meski pun orang tua tidak memperoleh keuntungan apa pun dari anaknya, ia tetap mencintai anaknya.

Bagaimana cinta Anda kepada pasangan Anda?
Bagaimana cinta Anda kepada suami Anda?
Bagaimana cinta Anda kepada istri Anda?

Semoga tulus abadi!

Mari kembali ke teman saya yang sedang bermasalah dengan suaminya. “Sabar kan ada batasnya!”

Itu adalah ungkapan yang salah kaprah. Sabar itu tidak ada batasnya. Atau dalam teori limit dapat kita katakan batas dari sabar itu adalah tak terhingga alias tidak ada batasnya. Menganggap sabar ada batasnya sudah merupakan kerugian tersendiri. Sedangkan berprinsip bahwa sabar itu tidak ada batasnya akan memberi banyak kebaikan.

Apakah sebaiknya ia mempertahankan ikatan pernikahan? Kondisi suaminya sudah berubah jauh dari semula.

Jawabannya tergantung dari misi pernikahan itu sendiri.

Apakah wanita itu menikah karena ingin mendapatkan suami yang dapat membimbingnya beribadah, sholat, baca quran, dan sebagainya? Jika memang itu tujuannya maka perceraian menjadi alternatif yang masuk akal.

Ataukah wanita itu menikah justru karena ingin membantu suaminya menjadi lebih baik? Jika ini tujuannya maka ketika suaminya dalam kondisi terpuruk justru menjadi saat-saat yang tepat untuk terus mendampingi suami. Inilah saatnya sang suami membutuhkan istrinya. Wajarkah sang istri hengkang ketika sangat dibutuhkan? Bukan perceraian yang terbayang. Tetapi kesempatan besar untuk membantu sang suami.

Ah…tapi kan saya bukan konsultan pernikahan! Mau menulis tentang matematika lagi aja ah! Saya sudah punya banyak ide yang tinggal saya tuliskan saja:

1. Berlatih memahami logika Phytagoras. Rumus segitiga Phytagoras sangat mengagumkan. Bagaimana cara kita memperkenalkannya kepada putra-putri kita?

2. Pengantar Aljabar untuk pemula. Tidak diragukan lagi bahwa aljabar menjadi jantungnya matematika saat ini. Tetapi ironisnya, anak-anak justru mulai takut matematika ketika berkenalan dengan aljabar. Bagaimana cara kita memperkenalkan aljabar kepada putra-putri kita?

3. Dan lain-lain.

O, ya. Terakhir deh! Jika cinta itu tidak tulus tetapi pamrih, hanya ada satu pamrih yang sah. Cinta karena Cinta. Cinta karena sang Maha Cinta. Cinta karena Allah.

Salam cinta…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

 
1 Comment

Posted by on February 5, 2009 in Blogroll, CINTA

 

Tags:

One response to “Apakah Cinta Anda Tulus Abadi?

  1. sarah gloria macarau

    March 23, 2011 at 7:07 pm

    popi berbi

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: