RSS

INTIMITAS JIWA

05 Apr

images1
Menjadikan hidup ini lebih bermakna bila bisa menilaikan bahwa hidup ini sebagai hadia dan anugrah dari TUHAN. Seperti sebuah gelas bukan hanya untuk menampung air atau apa aja tetapi juga bisa kia gunakan sebagai alat untuk minum air yang baik dan juga buruk sesuai dengan bagaimana yang menggunakan gelas itu. Itulah unuiknya dan hebatnya kegunaan gelas. Untuk lebih hebatnya lagi sebagai status sosial. Harga pun beragam; ribuan dan jutaan. Status pengguna pun beragam. Dari mereka yang di gubuk kartun hingga istana negara. Isi gelas, lebih beragam; air putih, kopi, teh, susu, anggur, sirup, hingga yang beralkohol.

Pasti, gelas kosong-berisi penuh-berisi setengah, berbeda. Gelas yang penuh berisi tak menyisakan ruang kosong. Gelas yang tak penuh berisi memiliki ruang kosong yang masih mungkin terisi. Gelas dan isi gelas sangat berbeda.

Secara analog, agama dan keberagamaan seperti gelas dan isi gelas. Agama lebih menunjuk kepala kelembagaan kebaktian pada Tuhan dengan segala aspeknya: yuridis, resmi, peraturan, hukum, ritual, serta seluruh organisasi tafsir alkitabiah. Sedang, keberagamaan atau religiositas lebih melihat dalam lubuk hati, riak getaran hati-nurani pribadi, sikap sembah, sikap tobat, yang sedikit banyak misteri bagi orang lain karena merupakan intimitas jiwa, cita-rasa yang mencakup totalitas jiwa.

Bila gelas kehidupan kita penuh maka bernilai dan berharga. Artinya, seluruh perkataan, perbuatan, tindakan, kegiatan, serta keterlibatan kita selalu memberdayakan. Seluruh pemikiran dan perasaan membawa pencerahan. Seluruh ide-gagasan-penilaian menghadirkan pendewasaan. Sebaliknya, bila gelas hidup kita kosong, yang ada hanya kesombongan, kepicikan, kemunafikan, iri, dengki, permusuhan, dan kepalsuan.

Religiositas, sebagai isi gelas, harus diperjuangkan setiap saat meski harus jatuh-bangun, gagal-sukses, bersemangat-loyo. Sebab, isi gelas kehidupan, akan memberi arah-tujuan-harapan yang pasti ”jadilah sempurna seperti Bapa di surga”. Dengan demikian, hidup kita lebih berkualitas, bermakna, dan memberdayakan. Setiap orang akan mengalami dan menemukan, dalam diri kita, damai-sejahtera.

Tentu, religiositas tidak sama dengan perilaku saleh: selalu aktif dalam kegiatan, sibuk dalam organisasi kegerejaan. Sebab, kegiatan-kegiatan saleh bisa menjadi pembungkus ”gelas kosong” demi kehormatan-nama baik-pujian.

Pertanyaan kita, mengapa banyak orang ”bergelas kosong atau sedikit berisi”? Mengapa, di negeri berketuhanan ini, sibuk dengan bentuk, harga, dan kegunaan gelas dan bukan bagaimana mengisi gelas?

Pertama, eksklusivisme. Sebuah pandangan yang menempatkan kelompok, lembaga, institusi, organisasinya paling benar, paling baik, paling suci. Sehingga, tidak jarang ’mempertuhankan” diri dengan memberi stigma kafir pada yang lain.

Kedua, puitanisme. Sebuah pandangan yang merindukan kembali ke bentuk asli. Segala sesuatu, yang menempel bentuk asli, harus disingkirkan. Kita lupa bahwa keberagamaan kita dibentuk denga adat-budaya, tradisi, dan pola hidup secara turun-temurun.

Apakah gelas kita penuh berisi atau kosong? Carut-marutnya kehidupan bersama karena intimitas jiwa manusia dengan Tuhan hanya ”dunia khayal” dan bukan interaksi sosial tanpa memandang latar belakang kehidupan.

 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2009 in ARTICLE, Blogroll

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: