RSS

Cinta Tuhan sungguh Menjadi CONTOH

17 Apr

Bagai seorang pemimpin politik yang hebat, Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang-oran yang mendengar bahwa Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, orang-orang berhamburan keluar. Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ”Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Mar: 11:9).

Hosana merupakan aliterasi dari bahasa Ibrani yang berarti selamatkan kami. Dalam seruan itu tersirat harap: Yesus menyelamatkan Israel dari belenggu Roma. Dan tindakan penyelamatan itu diharapkan muncul dari Pribadi yang mengendarai yakni Keledai.

Ketika mendengar kata ”keledai”, mungkin yang tergambar dalam benak kita ialah binatang lamban, lemah, bahkan bodoh. Gambaran yang tidak sepenuhnya salah.

Dari segi kecepatan, Keledai (Equus asinus) memang tak bisa disamakan dengan kuda (Equus caballus), meski keduanya satu genus. Dalam mekanika dikenal istilah ”tenaga kuda” yang merupakan ukuran kemampuan mesin. Tak ada istilah ”tenaga keledai”. ”Pacuan kuda”—yang sering menjadi ajang judi— juga lebih lazim terdengar ketimbang ”pacuan keledai”.

Ungkapan mengenai keledai, sebagaimana dikemukakan Rm.  A. Soetanto, SJ dalam lagu ”Keledai” dalam Kidung Ceria  81, banyak benarnya. Dinyatakan dalam lagu tersebut: “Keledai binatang yang berjalan lambat-lambat; Keledai takkan lari, walau tak ditambat. Keledai binatang pekerja berat berbeban penuh pun, jalannya tetap: lambat-lambat, lambat-lambat, lambat asal s’lamat.”

Keledai memang tak seagresip kuda. Jalannya lambat. Saking lambatnya tampak malas. Tak punya inisiatif. Syair lagu tadi menyatakan bahwa keledai tak akan lari, walau tak ditambat. Kurang berprakarsa kelihatannya.

Ada peribahasa ”Seperti keledai.”Artinya: bodoh atau keras kepala. Ada lagi peribahasa ”Keledai hendak dijadikan kuda.” Artinya: orang bodoh hendak dipandang sebagai orang pandai. Dalam kedua peribahasa itu, keledai dipandang sebagai binatang bodoh. Tak heran, banyak orang tersinggung kala dijuluki: ”keledai”.

Namun, jangan pula kita lupa, ada peribahasa baik tentang keledai: ”Keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.” Peribahasa itu berarti sebodoh-bodohnya keledai, binatang itu toh belajar dari pengalaman.

Kegagalan dijadikannya pelajaran agar tidak terulang lagi. Keledai belajar dari sejarah. Anehnya, manusia (Homo Sapiens ’manusia yang berpikir’) malah sering mengulangi kesalahan yang sama. Manusia agaknya perlu belajar dari keledai perihal memetik kearifan masa lampau.

Hanya itukah? Tidak. Rm. Tanto dalam lagunya tadi memuji keledai. Keledai merupakan binatang pekerja berat. Dia bukan pemalas. Jalannya memang lambat, tetapi semua tugas dituntaskannya.

Keledai jelas mempunyai ketahanan kerja tinggi. Aton, bahasa Ibrani untuk keledai, mengacu pada daya tahannya. Dalam sehari keledai sanggup berjalan sejauh 30 kilometer. Meski lambat, keledai konsisten menjalani panggilannya. Dia tidak pernah mutung.

Dilihat dari seekor keledai, dari jendela tempat tinggalnya, Paus Yohanes Paulus II dengan tenang memberi berkat kepada puluhan ribu umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk perayaan Minggu Palma dan World Youth Day.

Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun kepausannya, Paus tidak memimpin Misa Minggu Palma dan memberikan doa Angelus pada akhir upacara saja.

Dalam pesannya Bapa Suci mengatakan, “Kamu mencintai salib Kristus, yang mana dunia ini kamu bawa, karena kamu memiliki kepercayaan dalam cinta Tuhan yang sungguh-sungguh tercermin di dalam Kristus yang tersalib, sehingga kesaksian akan kesetiaannya kepada Kristus menjadi contoh dan model bagi semua kaum muda di dunia akan cinta yang besar untuk Tuhan”.

Di Pekan suci ini Tuhan Yesus memberi contoh kepada kita bahwa kesederhanaan, kelemahan kita merupakan kekuatan yang besar. Bagi seorang pemimpin dan bahkan RAJA Dia berani merendahkan diri sebagai manusia biasa dan berani bergabung dalam hati manusia.

Semoga Yesus juga menjadi contoh bagi para pemimpin di negara kita INDONESIA yang akhir-akhir ini mereka dibutakan karena kedudukan dan kekuasaan duniawi, sudah tidak memikirkan kesejahteraan rakyat banyak tapi hanya mementingkan kebersamaan untuk menikmati kekuasaan dan kedudukan semata. Untuk itu HAI PARA PEMIMPIN BERTOBATLAH….

Semoga Minggu Palma ini kita semakin mampu seperti Yesus yang RAJA BIJAK. Semoga.

 
2 Comments

Posted by on April 17, 2011 in Blogroll, CINTA

 

Tags: , , , , , , , ,

2 responses to “Cinta Tuhan sungguh Menjadi CONTOH

  1. jhoe

    April 17, 2011 at 8:56 am

    Luas Biasa Hidup itu sunggu indah

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: