RSS

Menyeimbangkan Pekerjaan dengan Kehidupan Keluarga

09 Dec

Dewasa ini, banyak keluarga mempunyai jadwal yang terlalu padat sehingga kekurangan waktu untuk bersama-sama. ”Pekerjaan menguras sebagian besar tenaga saya dan anak-anak hanya dapat sisanya,” ratap seorang wanita dari Inggris. Di Amerika Serikat, menurut jajak pendapat, 1 di antara 5 remaja mengaku bahwa kekhawatiran utama mereka adalah ”tidak punya cukup waktu bersama orang tua”. Menurut penelitian lain di Amerika Serikat, suami istri yang dua-duanya bekerja hanya mengobrol selama rata-rata 12 menit per hari.

“Lebih baik segenggam ketenangan daripada dua genggam kerja keras dan perjuangan mengejar angin.”—Ecclesiastes 4:6
Karena jenuh dengan meningkatnya tekanan pekerjaan, banyak orang memeriksa kembali prioritas mereka dan membuat perubahan. Timothy, seorang kepala keluarga yang mempunyai dua anak kecil, menceritakan, ”Saya bekerja lembur, dan istri saya bekerja pada akhir pekan. Jarang sekali kami bertemu. Akhirnya, kami menganalisis ulang kehidupan kami dan mengubah situasi kerja kami. Kini, kami jauh lebih bahagia.” Brian, seorang manajer pertokoan, mengatakan, ”Menjelang kehadiran anak kedua, saya mencari pekerjaan yang cocok untuk keluarga. Saya mengambil pekerjaan yang gaji per tahunnya 10.000 dolar AS lebih rendah daripada sebelumnya, tetapi ada manfaatnya!” Melina berhenti bekerja sewaktu putri pertamanya lahir. ”Berat juga membiasakan diri lagi dengan penghasilan dari satu orang,” kenangnya. ”Tetapi, saya dan suami merasa bahwa lebih baik saya tinggal di rumah beserta Emily ketimbang menaruhnya di rumah penitipan anak.”

Do not let your profession become your obsession: Jangan biarkan diri Anda terobsesi dengan profesi
Tentu harus kita akui, banyak keluarga yang terpaksa membanting tulang sekadar untuk menutupi pengeluaran bulanan. Ada teman hidup yang harus mempunyai dua pekerjaan demi mencukupi kebutuhan pokok, dan dalam kasus-kasus lain, suami istri bekerja, menitipkan anak-anak kepada nenek mereka atau di tempat penitipan anak.
Do not forsake the joys of family life by placing too much emphasis on work: Jangan korbankan kebahagiaan keluarga dengan terlalu menitikberatkan pekerjaan
Anda mungkin dapat menemukan cara-cara lain untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kewajiban keluarga. Intinya adalah: Jangan korbankan kebahagiaan keluarga dengan terlalu menitikberatkan pekerjaan. (© 2011 @ Copyright © 2010 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania)

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in ARTICLE

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: