Belajar Untuk PELAJAR

Kata Motivasi Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau  psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.

https://id.wikipedia.org , Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.

Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.

Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang

Belajar adalah proses mendalami ilmu dari lahir sampai ke liang kubur. Artinya belajar itu tidak pernah berhenti. Meskipun sekolah sudah selesai, tapi tidak ada kata berhenti untuk belajar. Karena belajar itu sangat penting, MAKA LAKUAN ITU TERUS MENERUS TANPA BATAS.

 

Salam, Jhoedandy Kurisuke

Advertisements

Tips ‘Mencuri Waktu’ Memotret

From- detikinet


(Phillippe Lopez/GettyImages)

Fotografi traveling bukan hal yang murah, apalagi kalau targetnya luar kota bahkan luar negeri. Selain butuh budget lumayan berat, waktu yang cukup dibutuhkan untuk hasil foto maksimal. Biasanya budget mencukupi, giliran cuti kantor sudah habis untuk keluarga. Atau sebaliknya, waktu masih banyak namun isi kantong lagi pas-pasan.

Salah satu kesempatan yang sangat baik untuk mengkompromikan keduanya yakni saat mendapat tugas dari kantor, menunaikan dinas luar kota atau dinas luar negeri.

Eits… Tapi biasanya perusahaan juga tidak mau merugi dengan membiarkan karyawannya lebih banyak jalan-jalan daripada bekerja. Dari 4 hari dinas luar, biasanya hanya sehari diberi kesempatan ‘menghirup udara bebas’. Selebihnya harus bertemu klien, rapat, memelototin angka-angka, memastikan target tercapai ataupun mengecek lokasi ke lapangan.

Nah, dengan waktu yang sempit, bukan berarti acara memotret dan memanjakan kamera kiamat. Kamera kesayangan masih perlu diajak jalan-jalan daripada hanya di tas atau dry box. Kasihan kameranya jadi stress enggak bisa melihat dunia luar.

Berikut beberapa tips singkat untuk memaksimalkan waktu minim saat hunting.

1. Pelajari agenda kegiatan dalam perjalanan dinas tersebut hingga detail waktunya. Pastikan ada waktu setidaknya setengah hari untuk bisa bebas memotret. Akan lebih bagus bila dapat kesempatan hingga satu hari penuh untuk memanjakan kamera kesayangan Anda.

2. Lakukan riset kecil-kecilan tentang kota yang akan dituju, khususnya tempat-tempat yang fotogenik. Jangan sia-siakan waktu memotret di tempat yang secara visual tidak menarik.

Riset kecil-kecilan ini bisa dilakukan melalui internet dengan melihat foto-foto yang telah dihasilkan sebelumnya oleh orang lain di tempat itu. Bisa ngecek dulu ke flickr, picasso, stockphoto, ataupun situs lain yang khusus memasang galeri foto-foto.

Dalam foto tersebut, jangan terpaku pada data teknis kamera melainkan perhatikan waktu pengambilan gambar. Apakah pagi, siang ataukah sore. Kalau pagi pukul berapa, kalau sore pukul berapa dan seterusnya.

Dilihat juga bulan pengambilan gambar dalam foto yang sedang diriset. Apakah dilakukan pada saat musim panas, musim semi atau musim hujan. Waktu ini sangat berguna untuk mengefisienkan perjalanan Anda saat ‘mencuri waktu’ untuk memotret.

Kalau dalam foto yang diriset direkam pagi hari, maka itu akan menjadi trip pertama saat memulai quick traveling. Begitu seterusnya hingga menjadi urutan waktu berakhir di malam hari. Sehingga dengan mempelajari foto dari urutan waktu yang dihasilkan, mulai tergambar peta perjalanan singkat Anda di suatu tempat, bukan?

Selain itu, bulan/musim saat pengambilan gambar yang sedang diriset juga tidak salahnya untuk dicek. Jangan-jangan, ada event atau kegiatan budaya yang bertepatan dengan kunjungan Anda ke luar kota/luar negeri.

Dengan mempelajari musim/bulan tertentu, akan terbaca juga kebiasaan masyarakat setempat yang kira-kira layak untuk difoto. Bila itu menarik, dapat menjadi prioritas utama saat mengajak kamera kesayangan jalan-jalan.

Yang tidak kalah penting, perhatikan spot pengambilan gambar dalam foto-foto yang sedang diriset. Kira-kira sudutnya darimana, bagaimana dengan komposisinya, letaknya jauh atau tidak, menggunakan lensa lebar ataukah lensa normal.

Bukan untuk mencontek, melainkan untuk membantu imajinasi Anda bermain, kira-kira akan bagaimana nanti kalau sudah di lokasi. Atau sebaliknya, dengan mempelajari foto-foto yang sudah ada, Anda bisa membuat foto yang berbeda dan dapat menghindari pengulangan foto yang membosankan.

Sehingga saat sampai di lokasi, hasil riset ini dapat membantu mengefisienkan waktu yang singkat, memilih jenis lensa, mencari sudut pengambilan gambar, memperhatikan arah cahaya, dan segera merekam dengan komposisi yang menarik.

3. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, buat rute perjalanan seefektif mungkin ke tempat yang akan dituju. Apakah menggunakan bus, subway, taksi ataukah menyewa kendaraan sendiri. Akan lebih beruntung bila menemui guide lokal, misalkan rekan kerja di daerah yang dengan sukarela mengantar Anda.

Rute ini penting untuk membuat urutan waktu (rundown) acara foto-foto tersebut. Buat urutan dari pagi hingga malam hari. Pastikan tempat yang akan dituju sembari mengkonsultasikan segala kemungkinan dengan guide lokal.

Kalau Anda menyukai street photography, pastikan rute yang dilalui melewati tempat-tempat yang fotojenik dan mampu merangkum kekayaan budaya lokal seperti arsitektur dan human interest.

4. Saat sesampai di tempat yang akan dituju, tidak ada salahnya mencari toko buku atau gerai yang menyediakan kartu pos dengan gambar tempat wisata lokal. Perhatikan foto dalam post card tersebut, barangkali bisa menjadi acuan dalam hunting foto singkat nanti.

Juga cari peta wisata setempat. Siapa tahu ada referensi tambahan untuk hunting foto. Peta ini juga bisa dipergunakan untuk bahan properti saat foto-foto nanti.

5. Saat eksekusi lapangan, tetap santai jangan terburu-buru memencet kamera. Pastikan Anda mengkontrol gambar yang akan dihasilkan dari data teknis kamera, penguasaan medan hingga merekam suasana yang dilihat.

6. Bawalah kamera cadangan setidaknya satu kamera. Kamera cadangan ini sangat berguna saat kamera utama mengalami error/kerusakan. Kalau perlu, bawa juga sebuah kamera poket untuk kondisi krusial, misalkan 2 kamera utama tiba-tiba tidak berfungsi.

Untuk lensa, setidaknya membawa 2 lensa yakni lensa lebar dan lensa normal. Lensa lebar untuk dibawah 50mm, dan lensa normal antara 50mm hingga 70mm dalam paradigma kamera film 35mm/full frame.

7. Bawalah memori kamera sebesar mungkin, misalkan hingga 32 GB. Memori besar untuk mewadahi ukuran foto terbesar (large) saat memotret. Menggunakan ukuran terbesar saat hunting singkat tidak ada salahnya untuk mengantisipasi croping saat mengedit gambar.

Ini Dia Kota dengan Hosting Website Terbanyak di Dunia

Form detikinet

Sudah tidak terhitung jumlah situs internet yang ada saat ini. Namun di kota mana sajakah situs-situs tersebut paling banyak ditempatkan?
Hostcabi, sebuah perusahaan informasi telah membuat urutan kota mana saja yang menempati 15 urutan teratas sebagai lokasi hosting terbanyak di dunia.

Ternyata Houston, salah satu kota di Amerika Serikat menempati urutan teratas dengan lebih dari 50 ribu situs internet ditempatkan di kota ini. Posisi kedua diikuti oleh Mountain View yang berada di California dengan jumlah setengahnya dari Houston.

Untuk posisi tiga hingga delapan pun semuanya masih didominasi oleh kota asal negara Adidaya tersebut dengan total hingga 450 ribu situs ditempatkan. Kota-kota tersebut antara lain, Dallas, Scottsdale, Provo, San Antonio, Chicago, dan Ashburn.

DIkutip detikINET dari Venture Beat, Jumat (9/11/2012), urutan berikutnya mulai ditempati oleh kota diluar Amerika Serikat yang dimulai oleh Beijing. Lalu diikuti oleh Tokyo, Moscow, dan Amsterdam.

Lalu 15 layanan hosting mana saja yang paling banyak digunakan di dunia? Ternyata ThePlanet.com merupakan penguasa layanan hosting karena telah menguasai hingga 40 ribu layanan hosting.

Sedangkan Google hanya mampu mengikutinya di urutan keempat dengan penguasaan sekitar 25 ribu. Kemudian Amazon menempati urutan kesepuluh dengan menguasai 10ribu layanan hosting saja.

( fyk / fyk )

Kejahatan di Media Sosial yang Mengerikan

from– detikinet


Potongan Video Amanda Todd (youtube)

Kasus bunuh diri Amanda Todd dalam usia sangat dini di Kanada menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa media sosial dapat digunakan untuk maksud jahat. Akhir hidup Todd yang tragis, semua berawal dari bully di dunia nyata yang juga terjadi di media sosial.

Video kesaksian Todd yang sangat menyentuh dapat disimak di sini. Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana mencegah kejahatan di media sosial? Mari kita simak.

Genealogi Kejahatan: Era Media Sosial Melahirkan Modus Baru

Memang, kejahatan yang terjadi dalam konteks media sosial ini awalnya terbatas pada bullying, yang umumnya terjadi pada usia dewasa muda (ABG). Namun pada akhirnya banyak yang berujung pada kriminalitas, seperti pembunuhan atau paling tidak percobaan pembunuhan. Ada juga yang berakhir pada bunuh diri seperti kasus Amanda Todd.

Terlepas dari apa yang terjadi di media sosial, kriminalitas adalah bagian sehari-hari dari apa yang dapat ditemui pada dunia nyata. Bullying adalah fenomena yang sangat jamak terjadi pada sistem pendidikan kita, dan juga negara lain.

Walaupun otoritas pendidikan/pemerintah sudah memberikan sanksi tegas bagi pelaku bullying, seakan sanksi tersebut dianggap sepi oleh pelaku lainnya. Sehingga, bullying tetap saja terjadi.

Fenomena ospek pada institusi pendidikan, yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengenalkan kehidupan sekolah atau kuliah pada peserta didik yang baru, terkadang sering dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan bullying.

Satu hal yang sangat mengerikan, efek kejahatan dari bullying menjadi termagnifikasi dengan kehadiran media sosial. Ini seyogyanya ditekankan bahwa media sosial bukanlah suatu ‘dunia’ yang otonom dan berdiri sendiri terhadap dunia nyata, namun media sosial adalah ‘dunia’ yang memiliki interkonektivitas dan dialektika dengan dunia nyata.

Kasus Amanda Todd ternyata juga terjadi di bagian dunia yang lain. Baru beberapa waktu yang lalu, sepasang pemuda Belanda ditangkap karena terlibat pembunuhan seorang pemuda yang lain. Kasus pembunuhan tersebut dipicu oleh bullying di facebook, yang berakhir pada pembunuhan di dunia nyata.

Tidak hanya itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga pernah menerima ancaman pembunuhan dari media sosial. Tentu dalam kasus Obama, Secret Service bertindak cepat untuk mengamankan sang pengancam.

Peristiwa kejahatan di media sosial juga sudah beberapa kali menghiasi media kita, termasuk percobaan pembunuhan dan bullying. Di Tanah Air, kasus penculikan dan pemerkosaan terhadap siswi SMP dan SMA pernah terjadi di Depok dan Lampung. Di Jakarta, hal yang sama juga pernah terjadi.

Percobaan pembunuhan setelah berkenalan via media sosial juga terjadi di Yogyakarta. Sejauh sepengetahuan kami, di daerah lain pun juga terjadi. Berhubung kasus kriminalitas melalui media sosial sudah terjadi di Indonesia, maka hal ini juga seyogyanya menjadi perhatian dan keprihatinan kita semua.

Sebelum media sosial lahir, kejahatan yang bersifat lintas daerah atau lintas benua lebih sukar dilakukan. Walau tentu saja kita mengenal kasus serial killer pra-medsos seperti yang dilakukan oleh Ted Bundy, namun sang penjahat harus mengeluarkan upaya ekstra untuk melakukan kejahatan skala besar.

Pencarian korban selanjutnya misalnya, jelas tidak mudah, karena harus membuka buku telpon atau media konvensional lainnya. Mengerikannya, media sosial memberikan ‘tools‘ bagi penjahat untuk menjadi predator yang bersifat ‘lintas daerah’, bahkan ‘lintas benua’.

Kasus Amanda Todd dapat menjadi cermin dari hal tersebut, karena walaupun Todd sudah pindah sekolah ke daerah lain, sang penjahat tetap dapat membully Todd via media sosial.

Pada akhirnya media sosial, sebagai teknologi, sudah tidak menjadi ‘bebas nilai’ ataupun ‘netral’. Ketika kejahatan memasuki ranah media sosial, di saat itu kita harus menunjukkan keberpihakan. Bagaimana berpihak dalam menghadapi kejahatan seperti itu?

User & Kontrol Privasi

Media sosial, sebagai produk teknologi, memiliki setting privasi yang dapat diatur. Twitter contohnya, dapat mengatur supaya akun kita dilock, sehingga request follow memerlukan persetujuan.

Sementara Facebook juga dapat diatur supaya visibility profil kita dibatasi. Google+ memiliki fitur ‘circle’ untuk membatasi akses terhadap profil dan status kita. Namun, memang untuk memahami setting ini, user dituntut untuk proaktif dalam mencari informasi.

Untunglah, toko buku dan perpustakaan sudah meynediakan informasi untuk itu. Sementara itu, ‘googling’ juga dapat membantu kita untuk mendapatkan info mengenai setting media sosial.

Pemahaman terhadap setting privasi akan sangat membantu kita untuk menangkal predator dunia maya. Namun, apakah sekadar pemahaman sudah cukup untuk hadapi kejahatan di media sosial? Bagaimana memberi kesadaran pada user, terutama pada tingkat dewasa muda (ABG), bahwa privacy setting ini penting?

Parental Guidance & Advokasi

Sesungguhnya, sekolah yang sejati bagi setiap anak, adalah rumah sendiri, dan guru sejati bagi setiap anak, adalah orang tua masing-masing. Oleh karena itu, peran orang tua dalam membimbing anak dalam menggunakan media sosial sangatlah penting.

Perlu ada kesepakatan dengan anak, kapan waktu menggunakan media sosial, kapan waktu belajar, dan kapan waktu untuk bermain bersama teman di dunia nyata. Dalam hal ini, orang tua janganlah menjadi gaptek.

Bimbinglah anak dalam menggunakan media sosial dan berikanlah kesadaran pada mereka, bahwa jika ada ancaman, untuk segera diberitahu kepada orang tua secara jujur.

Di sisi lain, gerakan/program internet Sehat dari ICT Watch perlu dicontoh. Mereka sudah sering mengadakan advokasi bagi para blogger atau netters yang haus informasi mengenai internet yang lebih aman, sehat, dan mencerahkan. Informasi lebih lengkap mengenai internet sehat, dapat diklik di sini.

Simpul yang tak kalah penting juga adalah peran advokasi dari lembaga pendidikan, baik swasta ataupun negeri. Mungkin perlu dipertimbangkan, supaya dalam kurikulum pengajaran ICT diintegrasikan juga mengenai media sosial.

Hal ini penting, supaya siswa mendapatkan dasar mengenai setting privasi dan hal-hal yang dapat mengamankan diri mereka dari predator dunia maya. Otoritas hukum, baik itu kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman, juga memegang peranan penting dalam membentengi setiap warga negara dari predator dunia maya.

Divisi Cybercrime dari setiap otoritas hukum perlu menjadikan media sosial sebagai salah satu target monitoring mereka.

Pada akhirnya, kerja sama orang tua, sekolah, LSM, dan pemerintah/otoritas merupakan resep yang paling manjur dalam membentengi anak-anak kita dari predator dunia maya.

Hal ini jelas penting, sebab masa depan anak-cucu kita sangat tergantung dari bagaimana mereka mengamankan diri mereka terhadap ekses negatif dari teknologi.

Waduh, Google Play Simpan 290 Ribu Aplikasi Berbahaya

detikinet


Berpikir bahwa hanya membeli aplikasi dari ‘toko resmi’ sudah aman? Belum tentu. Pengguna Android, waspadai aplikasi berbahaya yang beredar di Google Play.

Hasil penelitian yang dilakukan firma keamanan cyber Bit9 menyebutkan, dari 412 ribu aplikasi di Google Play yang diuji, 290 ribu diantaranya patut diwaspadai. Aplikasi ini berpotensi mengakses informasi personal penggunanya.

Meski tidak dikategorikan sebagai malware, Bit9 seperti dilansir Ubergizmo dan dikutip detikINET, Jumat (2/11/2012), mengelompokkan aplikasi-aplikasi ini dengan label ‘berbahaya’. Bit9 membagi aplikasi dalam sejumlah kategori.

Laporan Bit9 menyebutkan, 42 percen dari aplikasi yang diuji tersebut mengakses data lokasi GPS. Sebanyak 31 persen ‘mengintai’ panggilan telepon, 26 persen mengakses data personal seperti kontak dan email dan 9 persen memanfaatkan permission yang bisa membebankan biaya pada si pengguna.

Penelitian Bit9 dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan produk mobile agar lebih baik. Selain Google Play, Bit9 juga akan memperluas risetnya ke platform lain seperti Apple App Store dan Amazon Appstore.